Perang Badar se…

Perang Badar sebagai Hari Pembeda

            perang Badar merupakan pembeda antara dua periode sejarah manusia. Pasalnya, manusia secara keseluruhan sebelum diberlakukannya peraturan Islam sama sekali berbeda dengan manusia setelah diterapkannya peraturan Islam.

Pandangan hidup baru yang bersumber dari sistem ini, sistem yang bersumber dari pandangan hidup ini, masyarakat yang mencerminkan kelahiran baru bagi manusia, serta tata nilai yang menjadi landasan berpijaknya kehidupan dan sistem sosial serta perundang-undangannya; bukan hanya untuk kaum muslimin saja, sejak Perang Badar dan dikukuhkannya keberadaan masyarakat baru. Tetapi, sedikit demi sedikit, menjadi milik semua manusia, yang terpengaruh olehnya, baik di negara Islam maupun di luar negara Islam, baik yang membenarkan Islam maupun yang memusuhinya.

Tentara Salib yang pergi dari negara-negara Barat untuk memerangi Islam dan mengeksekusinya, sangat terpengaruh oleh tata kehidupan sosial Islam yang hendak mereka hancurkan itu. Mereka kembali ke negara mereka untuk meruntuhkan tatanan domestik yang berlaku pada mereka, setelah mereka menyaksikan sistem sosial Islami.

Pasukan Tartar yang berangkat dari negeri Timur (Mongolia) untuk memerangi Islam dan mengeksekusinya, pada akhirnya terpangaruh oleh akidah Islam karena terkesan oleh kondisi kaum Yahudi dan Salib yang menjadi warga negara Islam.

Lalu, mereka mengembangkannya di kawasan yang baru. Atas landasan akidah ini, mereka tegakkan khilafah sejak abad lima belas hingga abad dua puluh di jantung Eropa.

Bagaimana pun, sejarah manusia secara keseluruhan –sejak perang Badar- terpengaruh oleh furqaan atau pembeda antar berbagai hal di negeri Islam ini atau di negeri-negeri yang menentang Islam.

Perang Badar juga membedakan antara dua pola pandang terhadap unsur-unsur kemenangan dan unsur-unsur kekalahan. Maka, secara lahiriah tampak unsur-unsur kemenangan itu pada barisan musyrikin, dan unsur-unsur kekalahan pada barisan mukminin. Sehingga, orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit mengatakan, “Orang-orang mukmin itu telah diperdayakan oleh agamanya.”

Allah hendak memberlakukan perang itu seperti ini –peperangan pertama antara kaum musyrikin yang mayoritas dan kaum mukminin yang minoritas- untuk menjadi furqaan ‘pembeda’ antara dua pandangan yang berbeda terhadap sebab-sebab kemenangan dan sebab-sebab kekalahan.

Juga, supaya akidah yang kuat itu dapat mengalahkan pasukan yang banyak jumlahnya serta lengkap perbekalan dan persiapannya. Sehingga, tampak jelaslah bagi manusia bahwa kemenangan itu adalah untuk akidah yang bagus dan kuat, bukan semata-mata senjata dan persiapan.

Juga tampak jelas, bahwa para pemeluk akidah yang benar harus berjuang dan berperang melawan kebatilan tanpa harus menunggu memiliki persiapan lahiriyah yang seimbang. Karena, mereka (kaum mukminin) memiliki kekuatan lain yang berbobot. Ini bukan hanya isapan jempol, tetapi merupakan realitas.

Dan terakhir, Perang Badar merupakan garis pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan indikasi lain. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan Allah di dalam firman-Nya pada awal-awal surah.

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتِيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللّهُ أَن يُحِقَّ الحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ ﴿٧﴾

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ ﴿٨﴾

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (QS. Al-Anfaal: 7-8)

Pada mulanya, kaum muslimin keluar medan peperangan adalah dengan maksud untuk menghadapi kafilah Abu Sufyan dan merampas hartanya. Kemudian Allah menghendaki sesuatu yang tidak sama dengan apa yang mereka kehendaki.

Allah menghendaki agar kafilah Abu Sufyan yang tidak bersenjata itu lepas. Lalu, mereka berhadapan dengan pasukan Abu Jahal yang bersenjata, dan supaya menjadi pertempuran, ada yang terbunuh dan ada yang tertawan. Jadi, bukan urusan kafilah, harta rampasan, dan perjalanan yang menyenangkan.

Allah berfirman kepada mereka mengenai kehendak-Nya ini,

“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik)….”

Ini merupakan isyarat untuk menetapkan suatu hakikat yang besar. Yaitu, bahwa kebenaran tidak akan eksis dan kebatilan tidak akan lenyap di dalam masyarakat manusia, hanya karena semata-mata penjelasan ‘teoritis’ tentang kebenaran dan kebatilan.

Juga, bukan semata-mata itikad ‘teoritis’ bahwa ini benar dan itu salah. Sesungguhnya kebenaran tidak akan mantap dan eksis di dalam realitas kehidupan manusia, dan kebatilan pun tidak akan batal dan sirna dari dunia manusia, kecuali dengan dikalahkan dan dihancurkannya kekuatan kebatilan oleh kekuatan kebenaran.

Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika pasukan kebenaran dapat mengalahkan pasukan kebatilan. Maka, agama Islam ini adalah manhaj haraki (pergerakan) yang realistis, bukan sekadar teori untuk diketahui dan diperdebatkan, atau semata-mata kepercayaan yang bersifat pasif.

Secara riil, kebenaran telah mantap dan kebatilan telah batal. Kemenangan riil ini merupakan furqaan atau garis pembeda yang riil antara kebenaran dan kebatilan menurut istilah yang diungkapkan Allah di dalam memaparkan penjelasan tentang kehendak-Nya di balik peperangan ini.

Juga, di balik dikeluarkannya Rasulullah dari rumahnya dengan benar, dan di balik larinya kafilah yang tidak bersenjata, serta bertemunya mereka dengan pasukan yang bersenjata.

Semua ini merupakan furqaan ‘pembeda’ di dalam manhaj agama Islam, yang dengannya tampak jelas tabiat manhaj ini dan hakikatnya di dalam perasaan kaum muslimin sendiri. Ini juga merupakan furqaan yang dapat kita lihat dengan jelas sekarang, ketika kita melihat telah lunturnya pemahaman kaum muslimin terhadap agama ini, meskipun mereka menyebut dirinya muslim.Bahkan, kelunturan ini pun sampai menimpa sebagian orang yang menyeru manusia kepada agama ini.

Demikianlah hari Perang Badar sebagai Hari Furqaan, hari bertemunya dua pasukan, dengan segenap kandungan petunjuknya yang beraneka ragam, lengkap, dan mendalam.

“…Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Apa yang terjadi pada hari itu merupakan contoh dari kekuasaan-Nya terhadap segala sesuatu. Contoh yang tak dapat dibantah dan diperdebatkan. Contoh tentang realitas yang tersaksikan, yang tidak ada jalan untuk menafsirkannya kecuali dengan kodrat Allah, dan bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.

Selanjutnya, kita berhenti lagi sejenak di depan penyifatan Allah terhadap hari Perang Badar sebagai Yaumal Furqaan atau hari pembeda di dalam firman-Nya.

إِن كُنتُمْ آمَنتُمْ بِاللّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

“…Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan…” (QS. Al-Anfaal: 41)

Perang Badar -yang dimulai dan diakhiri dengan perencanaan Allah, pengarahan-Nya, pimpinan-Nya, dan bantuan-Nya- adalah furqaan. Yakni, pembeda antara yang hak dan yang batil, sebagaimana dikatakan oleh para ahli tafsir.

Furqaan itu sendiri memiliki makna yang jauh lebih lengkap, lebih luas, lebih lembut, dan lebih dalam.

Ia adalah pembeda antara yang hak dan yang batil. Akan tetapi, kebenaran itu adalah kebenaran orisinil yang menjadi landasan tegaknya langit dan bumi. Juga menjadi landasan tegaknya fitrah segala sesuatu dan semua makhluk hidup.

Kebenaran yang tercermin dalam keesaan Allah dalam uluhiyyah, kekuasaan, mengatur, dan menentukan. Juga dalam ubudiah seluruh semesta (langit dan bumi, benda-benda, dan seluruh makhluk hidup) kepada uluhiyyah yang esa, kepada kekuasaan yang satu, kepada pengaturan dan penentuan yang tiada yang mempersoalkannya dan tiada yang bersekutu dengannya.

Hal itu dibedakan dengan kebatilan yang penuh kepalsuan dan kebohongan, yang merata di muka bumi pada waktu itu, dan menutup kebenaran yang mendasar. Pada waktu itu thaghut-thaghut bercokol di muka bumi dan mengatur kehidupan hamba-hamba Allah dengan sekehendak mereka. Juga mengaturnya dengan hawa nafsu yang mengendalikan urusan kehidupan dan makhluk hidup.

Maka, inilah pembeda yang besar dan sempurna pada hari Perang Badar. Pembeda yang membedakan antara kebenaran yang besar dan kebatilan yang melampaui batas. Lalu, memberi garis batas di antara keduanya sehingga tidak dapat bercampur.

Peristiwa Perang Badar merupakan pembeda antara yang hak dan yang batil, dengan petunjuknya yang komplit, luas, halus, dan dalam. Juga dengan jangkauannya yang amat jauh dan rentang waktunya yang amat panjang.

Ia membedakan antara kebenaran dan kebatilan di dalam lubuk hati yang sangat dalam. Juga membedakan antara tauhid yang murni dan mutlak beserta segala cabangnya dalam hati dan perasaan -pada akhlak dan perilaku, pada ibadah dan ubudiyah- dengan kemusyrikan dalam segala bentuknya yang meliputi ubudiyah hati kepada selain Allah. Yaitu, kepada sesama manusia, hawa nafsu, tata nilai, peraturan, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan.

Perang Badar merupakan pembeda antara kebenaran dan kebatilan ini dalam kenyataan. Membedakan antara ubudiyah kepada manusia dan hawa nafsu, norma dan tata nilai, peraturan dan undang-undang, tradisi dan kebiasaan dengan sikap mengembalikan semuanya kepada Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada Yang Maha Kuasa selain Dia, Tidak ada yang menciptakan hukum selain Dia, dan tidak ada yang berhak membuat syariat selain Dia.

Maka, kepala pun menjadi tegak, tidak menunduk kepada selain Allah. Kepala semua manusia menjadi sama rata, tidak tunduk kecuali kepada kedaulatan Allah dan syariat-Nya. Merdekalah sisi kemanusiaannya yang selama ini diperbudak oleh thaghut.

Perang Badar merupakan pembeda antara dua fase sejarah pergerakan Islam. Yakni, fase kesabaran, ketabahan, penghimpunan, dan penantian, dan fase kekuatan, pergerakan, bergerak cepat, dan kegairahan.

Islam dengan identitasnya sebagai pandangan hidup baru, manhaj baru terhadap eksistensi manusia, sistem baru bermasyarakat, dan bentuk baru pemeritahan, dengan sifatnya sebagai pernyataan umum kebebasan dan kemerdekaan manusia di muka bumi, dengan menetapkan uluhiyyah Allah Yang Maha Esa dan kedaulatan-Nya, dan menolak thaghut-thaghut yang merampas uluhiyyah dan kedaulatan Allah; sudah tentu harus kuat, bergerak, dan bergairah. Karena, ia tidak bisa bersembunyi saja sambil menantikan perputaran dan perjalanan waktu.

Islam tidak hanya sebagai semata-mata akidah di dalam hati pemeluknya, yang tercermin di dalam simbol-simbol ta’abbudiyah kepada Allah, dan di dalam hati pemeluknya, yang tercermin di dalam simbol-simbol ta’abbudiyah kepada Allah, dan di dalam akhlak perilaku di antara sesama mereka.

Ia harus bergairah dan bergerak untuk merealisasikan pandangan baru, manhaj (sistem) baru, daulat baru, dan masyarakat baru di dalam realitas kehidupan. Ia harus menyingkirkan semua rintangan yang menghambatnya dan menghalangi penerapannya di dalam kehidupan riil kaum muslimin. Kemudian di dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Islam datang dari sisi Allah memang untuk diterapkan di dalam kenyataan. (bersambung)

 

Tentang fendiksalam

merdeka?
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s